1kepricom
Follow 1kepricom Like Follow
1 tahun, 1 bulan lalu | dilihat sebanyak 681 pembaca

Mendidik Anak ala Luqmanul Hakim

redaksi - 1kepricom

Oleh: Utrianto, Pendidik, Anggota PMB dan Bina Mental Loka Rehabilitasi BNNP Kepri

Apa yang dikatakan Luqman kepada anaknya? Allah SWT telah menceritakan dalam Quran Surah Luqman ayat 13-19, lihat: “Dan (Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi nasihat kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar ….. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai”.

Apa yang perlu kita pahami? Luqman yang dimaksud dalam ayat-ayat ini menurut Ibnu Katsir adalah Luqman bin Anqa’ bin Sadun. Dia adalah anak dari seorang bapak yang Tsaaran. Pengabadian kisah Luqman memang berbeda dengan pengabdian tokoh lain yang lebih komprehensif. Pengabadian Luqman hanya berkisar seputar nasehat dan petuahnya yang sangat layak dijadikan acuan dalam mendidik anak secara Islam.


Tentu masih banyak lagi cara Islam dalam mendidik anak berdasarkan ayat-ayat atau hadits Rasulullah SAW yang lain. Namun, paling tidak, pesan Luqman ini bukan sekadar pesan biasa umumnya seorang bapak kepada anaknya, tapi, merupakan pesan yang penuh dengan sentuhan kasih sayang dan penuh dengan muatan ideologi serta tersusun berdasarkan keutamaan.

Bermula dari pesan agar, a. Mengesakan Allah SWT, b. Tidak menyekutukanNya, c. Bersikap tawadu’ dan santun yang tercermin dalam cara berjalan dan berbicara.

Kedua jenis pesan dan nasehat tersebut ternyata tidak keluar dari dua prinsip utama dalam ajaran Islam yaitu ajaran tentang akidah dan akhlak. Ini konsep pendidikan Luqman yang paling penting dan perlu dicontohi. Menurut Sayid Quthb, rangkaian ayat-ayat yang membincangkan tentang Luqman dan nasihatnya yang diawalkan dengan anugrah hikmah kepada Luqman di ayat 12 merupakan pembahasan kedua dari pembahasan surah Luqman yang masih sangat berkaitan dengan pembahasan episode pertama, yaitu persoalan akidah.

Pesan Luqman sendiri pada asasnya adalah pesan akidah yang memiliki beberapa maksud, diantaranya berbakti dan berbuat kebaikan kepada kedua orang tua. Hal ini merupakan sebagai bukti rasa syukur atas kasih sayang dan pengorbanan mereka merupakan tuntutan atas akidah yang benar kepada Allah swt. Sentiasa merasakan kehadiran dan pengawasan Allah SWT dalam setiap langkah dan perbuatan merupakan gambaran sebenar dari keyakinan akan sifat Allah Yang Mengetahui, Maha Mendengar dan Maha Mengawasi.

Kemudian dari segi menjalankan kerja amar makruf dan nahi munkar yang disertai dengan sikap sabar dalam menghadapi segala rintangan dan tentangan merupakan bukti akan kekuatan iman yang bersemayam di dalam hati sanubari. Hingga pada pesan untuk sentiasa bersikap tawadu' dan tidak sombong, baik dalam tingkah laku maupun dalam bercakap. Semuanya tidak lepas dari ikatan dan tuntutan akidah yang benar.

Pembahasan tentang akidah dalam surah ini memang wajar karena surah Luqman termasuk surah Makkiyyah yang memberi fokus pada penanaman dan memperkuatkan akidah secara utama.

Siapa Luqman Alhakim?

Terdapat banyak pendapat siapa Luqman, apakah ia seorang nabi atau ia hanya seorang lelaki saleh yang diberi ilmu dan hikmah? Yang jelas, jumhur ulama lebih cenderung memilih pendapat yang mengatakan bahwa ia hanya seorang hamba yang saleh dan ahli hikmah, bukan seorang nabi seperti yang diperkatakan oleh sebagian ulama. Gelaran Al-Hakim diakhir nama Luqman tentu gelaran yang tepat untuknya sesuai dengan ucapannya, perbuatan, dan sikapnya yang memang menunjukkan sikap yang bijaksana.
Allah SWT sendiri telah menganugrahnya hikmah seperti yang ditegaskan dalam ayat sebelumnya: Lihat ayat 12; “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji“. (Luqman: 12)

Yang menarik disini bahwa Luqman bukanlah seorang yang terkenal atau memiliki pengaruh. Ia hanya seorang hamba Habasyah yang berkulit hitam dan tidak punya kedudukan sosial yang tinggi di dalam masyarakat. Namun, hikmah yang diterimanya menjadikan ucapannya dalam bentuk pesan dan nasihat layak untuk diikuti oleh seluruh orang tua tanpa terkecuali. Hal ini terungkap dalam riwayat Ibnu Jarir bahwa seseorang yang berkulit hitam pernah mengadu kepada Sa’id bin Musayyib. Maka Sa’id menenangkannya dengan mengatakan: “Janganlah engkau bersedih (berkecil hati) karena warna kulitmu hitam. Sesungguhnya terdapat tiga orang pilihan yang kesemuanya berkulit hitam, yaitu Bilal, Mahja’ maula Umar bin Khattab dan Luqman Al-Hakim”.

Demikian nasihat dan pesan Luqman dalam mendidik anaknya yang didahului oleh pendidikan akidah tentang ke-Esaan Allah SWT dan pengetahuanNya yang hebat yang akan melahirkan sikap hamba Allah, rendah hati, hati-hati dalam bersikap dan bertindak.

Kekuatan dan kemantapan akidah tersebut akan bertindak balas dalam berakhlak dan berperilaku kepada orang lain, terutama sekali terhadap kedua orang tua. Sungguh satu upaya yang serius dari seorang Luqman yang bijak untuk mendekatkan dan memperkenalkan seorang anak sejak dini dengan Penciptanya yang menampak pada kebaikan dan kesejahteraan lahir dan batin. Serta menjadikannya memiliki tingkat pertahanan dan pertahanan diri yang kukuh dalam menghadapi bermacam godaan kehidupan yang dirasa kian melalaikan dan menjerumuskan.

Muara akhirnya adalah, pertama, menjadi anak yang beriman pada Allah SWT dengan sebaik-baik mungkin, kedua, menjadi anak yang hormat dan taat pada ibu bapaknya, dan ketiga, berbuat baik pada masyarakat dan orang lain di sekitar lingkungannya. Wallahu a’lam. ***